Stasiun TV dan Sinetron Indonesia Merusak Moral dan Seni Digitalisasi


Stasiun TV dan Sinetron Indonesia Merusak Moral dan Seni Digitalisasi

Stasiun TV dan Sinetron Indonesia Merusak Moral Masyarakat

Saya yakin hampir seluruh masyarakat Indonesia telah mengenal apa yang disebut dengan Sinetron (Sinema Elektronik) dan pernah melihat film televisi (non layar lebar) yang dibuat dengan media elektronik tersebut.
Namun, pernahkah, atau sekarang, seringkah kita mendengar, melihat, dan merasakan efek dahsyat yang sangat buruk dari tontonan sinetron yang ‘dijejalkan’ ke dalam mata kita, masyarakat pemirsa Indonesia?
Pernah Anda mendengar kisah-kisah tragis semacam Anak-anak di bawah umur (tingkat SD dan SMP) hingga orang-orang dewasa yang melakukan aksi bunuh diri karena hal-hal yang sepele?
Ya, mereka semua kini makin pintar dan makin tahu apa solusi sederhana dari sebuah kesulitan atau kekecewaan dalam hidup mereka — SUICIDE!
Mereka semua kini makin pintar dan makin tahu teknik-teknik bunuh diri yang baik dan benar hanya melalui tayangan sinetron murahan (yang diproduksi secara mahal) di televisi kita.
Beberapa waktu yang lalu, keponakan kecil saya yang sering melihat sinetron anak dan sekaligus dewasa, pernah merengek-rengek meminta sesuatu yang tidak dikabulkan oleh Ibundanya.
Dan karena kecewa,si Anak spontan mengatakan: “Ya uda, kalo begitu, aku mau bunuh diri saja!”
Percayakah Anda? Itu tidak penting, yang jelas, Penulis mendengarnya, dan Penulis menjadi saksi hidup kejadian memprihatinkan tersebut.
Kita seringkali melihat tingkah laku anak-anak di sekeliling kita yang meniru-niru adegan dan/atau percakapan anak-anak ataupun orang dewasa di dalam film-film yang disiarkan oleh stasiun televisi Indonesia.
Namun celakanya, tidak jarang penulis melihat tingkah laku dan percakapan mereka berunsur membahayakan, baik untuk perkembangan kepribadian dan moral diri mereka sendiri maupun interaksinya dengan orang lain, seperti kata-kata: “aku bunuh diri saja!” atau “nanti aku bunuh kamu lho!” atau “Aku Benci Mama!” “Ma, aku boleh pacaran?”, atau aksi-aksi individual mereka seperti melompat-lompat dari jendela, menirukan atraksi tokoh film action, dan lain sebagainya.

Dengan melihat kenyataan tersebut, tentu asal dan akar masalahnya mengerucut menjadi satu dari dua hal di bawah ini:
1. Filterisasi Stasiun Televisi
2. Pengarahan dan penjagaan Orang Tua terhadap Anak dari dampak buruk televisi beserta seluruh konten siarannya.
Bagi Penulis, Stasiun Televisi lah yang paling bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya dengan menyiarkan banyak konten visual yang seringkali menurut Penulis dan banyak kalangan masyarakat tidak pantas untuk disiarkan demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
Pengarahan dan Penjagaan Orang Tua terhadap Anak dari dampak buruk tayangan di televisi hanya merupakan akibat dari lemahnya atau tiadanya filter konten sebuah tayangan televisi pada pihak pemilik dan pengelola stasiun televisi yang bersangkutan.
Sebagai contoh, Tontonan Acara berbau Kriminal di televisi yang rating penontonnya cukup tinggi memang bisa dijadikan alat pengeruk keuntungan besar bagi pemilik/pemegang saham sebuah stasiun TV, namun sekaligus menjadi alat pengeruk kuburan bagi banyak pihak.
Acara tersebut memang bisa membuat pemirsa menjadi sadar diri dan blebih berhati-hati, namun bukti di lapangan membuktikan bahwa peningkatan jumah kriminal di Indonesia juga makin meningkat dengan adanya siaran tersebut. Tuduhankah ini? TIDAK! Kita semua bisa melihat banyaknya aksi kejahatan dengan modus-modus dan teknik-teknik kejahatan baru seperti modus dan teknik kejahatan baru yang ditampilkan dalam siaran tersebut.
Dengan kata lain, tayangan acara kriminal di televisi bisa menjadi sarana introspeksi diri dan penjagaan keamanan diri sekaligus menjadi inspirasi/ilham/motivator kejahatan-kejahatan baru.
Percayakah Anda? Itu tidak penting, karena kita bicara fakta lapangan tentang makin meningkatnya kejahatan dengan modus dan teknik kejahatan baru (juga lama) di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Seharusnya, bukan sebaiknya, pihak pemilik dan pengelola stasiun televisi lebih cerdas dalam melihat sebuah konten digital sebelum mereka siarkan melalui media televisi mereka. Seharusnya, mereka membuat filter konten digital untuk menyaring konten-konten yang tidak sepantasnya disiarkan ke publik (pemirsa).
Penulis tahu bahwa stasiun televisi memiliki filter tersebut, yang Penulis tidak tahu, kenapa filter tersebut tidak bisa difungsikan dengan baik dan benar. Yang jelas, tentu bukan karena karena wrong system ataupun wrong management, namun murni human error dan wrong humanity.
Inilah wajah asli pertelevisian dan wajah sinematografi Indonesia.

Pertanyaan Penulis kepada para produser sinetron murahan Indonesia dan pemilik stasiun televisi Indonesia:
1. Tanya: Sadarkah Anda akan efek negatif yang bisa ditimbulkan dari tayangan televisi Anda?
– Jawab: YA!
2. Tanya: Kenapa Anda tetap memproduksi sinetron kontroversial dan murahan tersebut?
– Jawab: Saya tidak peduli apa itu kontroversial atau murahan, yang ada dalam pikiran saya: Demi Uang semata! Money Talks, Man!
3. Tanya: Lalu bagaimana dengan efek negatif yang bisa dan seringkali ditimbulkan dari sinetron Indonesia?
– Dijawab dengan santai: “Itu tergantung dari Pengarahan Orang Tua masing-masing Anak”
4. Tanya: Apakah itu tidak berarti Anda menghidupkan ‘lingkaran api’ di sekeliling tempat bermain dan belajar anak-anak kecil?
Jawab: Diharapkan Orang Tua anak-anak tersebut untuk menjaga mereka agar tidak tersentuh ‘lingkaran api’ nya.
5. Dan tahukan Anda bahwa anak-anak tersebut kemungkinan besar akan menyentuh ‘lingkaran api’ jahanam Anda karena mereka hidup, tidak diam, beraktifitas, memiliki akal, dan berpikir jauh lebih maju dari pikiran saya dan Anda sewaktu kita kecil dulu? Mereka tentu bergerak, tidak mau dikurung dalam pasungan ‘lingkaran api’atau apapun.
– Jawab: sekali lagi, saya tidak mempedulikannya, juga pertanyaan Anda, kecuali bila pertanyaan Anda menghasilkan uang banyak.
6. Tanya: Bukankah Sinetron adalah sebuah genre film — salah satu cabang dari seni — yang sebaiknya memenuhi kriteria sebuah karya seni — sebuah artwork.
– Jawab : Apa itu seni, saya tidak tahu itu makanan apa?
(Penulis: Ya, pantas, memang Anda tidak tahu seni, sehingga film-film Anda sangat jauh dari kriteria sebuah karya seni, namun sangat dekat dengan unsur finansial)
7. Tanya: Tahukan Anda bahwa sinetron murahan Anda dan teman-teman seprofesi Anda sudah merusak tatanan dan jiwa seni khususnya seni pertunjukan dan seni perfilman.
– Jawab : Yang saya tahu, saya mau pamit, mau bikin film lagi.

Stasiun TV dan Sinetron Indonesia Merusak Seni Digitalisasi

Pada Era Digital sekarang ini memungkinkan manusia untuk menggunakan sarana tekhnologi sebagai alat bantu untuk memudahkannya dalam melakukan banyak hal di dunia ini termasuk dalam Rumah Produksi Televisi dan Pembuatan Film.
Dalam pembuatan sebuah film, peran suatu tekhnologi sangat besar dan bisa memudahkan proses produksinya. Namun yang penulis soroti pada artikel ini, adalah minimnya pemanfaatan sumber daya tekhnologi untuk pembuatan sebuah film agar film itu sendiri lebih berbobot, lebih enak untuk dilihat, dan memenuhi unsur-unsur estetika.
Banyak film sinetron tampak dibuat secara asal-asalan, namun diproduksi dengan biaya mahal seperti pembayaran bintang sinetron yang berlebihan per episodenya, pengadaan obyek sarana pembuatan film yang berlebihan, tidak merakyat, dan kurang realistis untuk bisa diterima khalayak ramai, misalnya: pengadaan mobil jaguar untuk dikendarai tokoh utama, namun tidak difungsikan secara signifikan, terkesan hanya show of force saja. Tidak heran banyak pihak menyebut Sinetron sebagai “dunia mimpi”. Kenapa tidak mengganti mobil jaguar dengan mobil yang lebih murah tanpa menghilangkan jati diri si Tokoh sebagai Orang Kaya, namun memiliki fungsi yang signifikan. Anggaran dana hasil Pemangkasan Biaya Produksi dengan penggantian obyek sarana pembuatan film dengan obyek yang lebih murah dan realistis bisa digunakan untuk alokasi peningkatan mutu film itu sendiri dari sisi artistiknya.
Bila masalah optimalisasi tekhnologi terbentur pada biaya, tentu masih banyak jalan lain menuju Roma, dalam arti cukup optimalisasi tekhnologi yang paling dibutuhkan saja, namun cukup bisa menjadi bagian penting sebuah seni perfilman.
Sangat disayangkan bila tekhnologi hanya digunakan untuk pembuatan produk murahan saja dengan biaya produksi yang mahal tanpa ada unsur artistik sedikitpun.

Kita bisa mengambil contoh yang dari sisi tekhnologi dan finansial bagus, yakni Steve Jobs’ Apple Products.
Bukan menjadi rahasia lagi bahwa Produk-Produk Apple bisa dibuat dengan biaya produksi rendah, namun bisa laris terjual dengan harga tinggi. Empat penyebab kenapa Produk=Produk Apple laris terjual yang jelas adalah: Kualitas Produk, Daya Tarik Artistik tinggi, Inovasi, dan kecantikan produknya.

Sinetron sendiri adalah sebuah genre film — salah satu cabang dari seni — yang seharusnya memenuhi kriteria sebuah karya seni — sebuah artwork.
Pembuatannya pun sebaiknya tidak dibuat asal-asalan yang ditujukan hanya untuk mengeruk uang semata tanpa mempedulikan dan mengesampingkan Sense of Art dan efek-efek negatif yang ditimbulkan oleh karya tersebut.
Bolehlah kita membuat suatu karya dekonstruksi seni, namun perlu diingat bahwa walaupun pengetahuan seni terus berkembang, bertambah, dan berubah secara dinamis, bahkan ekstrim sekalipun, semuanya masih dalam koridor SENI.
Karya senipun sebaiknya tidak merusak tatanan, kaidah, dan jiwa, serta makna Seni yang bersifat lentur dan penuh dengan pemaknaan.
Dalam konteks seni pertunjukan dan seni perfilman dalam kaitannya dengan Seni digitalisasi di dalam pertelevisian Indonesia, kita bisa melihat telah terjadi pemblingeran seni, penyesatan seni, bahkan penisbian seni oleh para produser sinetron dan pemilik stasiun televisi.
Kita bisa jelas melihat bahwa pemilik stasiun televisi dan produser sinetron jauh lebih mementingkan pemasukan finansial dari sinetron mereka daripada kualitas sebuah karya film dan daripada seni itu sendiri.
Mereka lebih mengutamakan pendapatan dari iklan yang digunakan untuk break sebuah sinetron dan memiliki durasi lebih panjang dari durasi filmnya sendiri. Disamping itu mereka juga lebih memfokuskan pada pendapatan dari Rating Penonton dengan mengabaikan Sense of Art dari karya film sinetron yang disiarkannya.
Penulis sendiri maklum, karena Televisi merupakan Rumah Produksi Tayangan Visual semata yang berorientasi profit (profit oriented), bukan Rumah Produksi Seni atau Art Gallery.
Namun yang menjadi pertanyaan, apakah sebuah rumah produksi televisi tidak bisa menyiarkan sebuah tayangan acara yang tidak hanya cukup berbobot, enak untuk ditonton, namun aman untuk dikonsumsi publik, terutama anak-anak?
Apalagi karena rumah produksi televisi sekarang secara rutin telah mengkondisikan memberi banyak ‘makanan’sinetron yang tidak berkualitas, berbobot, menyesatkan, dan membahayakan untuk dikonsumsi publik.

Contoh Penelitian Mandiri terhadap Sinetron Indonesia berjudul “INTAN” yang disiarkan pertama oleh Stasiun Televisi Nasional RCTI oleh Bp. Prof. Dr. Em. H. Soediro Satoto, Dosen UNS & ISI Solo, pakar teater dan sinematografi, membuktikan bahwa:

  1. Televisi lebih difungsikan sebagai sarana visualisasi sebuah produk (sinetron) semata, bukan sarana tekhnologi yang bisa membantu menonjolkan segi artistik sebuah produk (yang kurang estetik sekalipun)
  2. Durasi Iklan untuk break sebuah tayangan sinetron jauh lebih panjang dari durasi film sinetron itu sendiri, sekaligus membuktikan bahwa
  3. Salah satu Tujuan Utama sebuah Rumah Produksi Televisi adalah berorientasi pada keuuntungan (profit oriented) bukan Orientasi Seni Pertunjukan.

Tampak sekali bahwa pemilik stasiun televisi maupun si produser film sinetron berpendapat: “tidak masalah tayangan sinetron kami dianggap kontroversial, murahan, ataupun tidak menyehatkan mata moralitas kita, atau membahayakan pemirsa, khususnya anak-anak, yang penting kami bisa dapat duit banyak”, selain itu “Modal Uang dan Kenekatan kami besar, tapi modal pengetahuan seni kami sangat minim, dan kami tidak peduli itu, jadi ya kami bisanya bikin film sinetron seperti itu”
— persis seperti kata pepatah: “TIADA ROTAN AKAR PUNJABI”🙂

Mari Prihatin
Salam

One Response

  1. wah setuju bgt nih!!! dari judulnya dah setuju!!! wah… selain itu, sinetron di indonesia byk ngejiplak lagi…ga ada seninya sama skali! bener makin lama makin rusak… SInetron dari dulu merusak moral bangsa!!!

    Henry said :
    Setuju juga dengan sepersetujuan mas Bob🙂
    Thanks for the comment…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: