Krisis Energi Listrik Di Indonesia – Krisis Mental Pejabat, Penguasa, dan Pengusaha

Krisis Energi Listrik Di Indonesia – Krisis Mental Pejabat, Penguasa, dan Pengusaha

Keberadaan dan Keberdayaan Energi Listrik merupakan sebuah keharusan sebagai motor penggerak roda kehidupan pada sebuah bangsa untuk tetap bergerak dan mengarah maju ke depan.
Tanpa Keberadaan dan Keberdayaan Energi Listrik akan menghambat hingga menghentikan aktivitas masyarakat dunia usaha dan rumahan, serta berujung terhambatnya atau terhentinya kemajuan umat pada suatu bangsa.

Indonesia Menangis dan Malu (kalau masih punya kemaluan), Pengusaha menangis, komputer Penulis juga menangis karena dipaksa hemat energi (jarang-jarang dipakai?) 😦 . Mungkin inilah realita dampak Krisis Energi Listrik yang tengah melanda di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, berupa kurangnya pasokan energi listrik untuk masyarakat Indonesia di pulau Jawa dan Sumatra yang terjadi pada bulan-bulan terakhir ini.

Seperti telah diberitakan beberapa waktu yang lalu bahwa Akibat Krisis Energi Listrik di Indonesia, maka di berbagai wilayah di Indonesia masih akan mengalami pemadaman listrik bergilir hingga tahun 2010 mendatang. Dikabarkan bahwa hal ini dikarenakan PLN (Perusahaan Listrik Negara) Indonesia mengalami defisit akibat tidak berimbangnya pasokan yang dimiliki PLN dengan permintaan energi listrik oleh konsumen (masyarakat). Diberitakan bahwa saat ini sebenarnya total kapasitas terpasang PLN sudah mencapai 26.000 Mega Watt se Indonesia tetapi beban puncaknya sudah mencapai 24.000 MW. sedangkan daya mampunya tentunya sekitar 25.000 mega sehingga bila ada masalah kita tidak punya cadangan lagi (Lho, bukannya tidak pernah terjadi kesetimbangan sejak dulu? Aneh kan?). Kurangnya atau tersendatnya pasokan batu bara pada sumber-sumber energi pemasok listrik di pulau jawa seperti Sumber Energi Cilacap serta kerusakan teknis pada sumber energi lain juga telah dijadikan dalih/alasan PLN untuk melakukan pemadaman listrik (electrical shutdown) tersebut secara berkala, bergilir, dan sepihak pada bulan-bulan terakhir ini (PLN sebagai lembaga monopoli negara pantas diberi piala Excuse Award 2008).
Dan seperti telah dirasakan masyarakat khususnya di pulau Jawa dan Medan, Sumatra, pemadaman listrik tersebut seringkali dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada pihak konsumen yakni masyarakat pengguna energi listrik, baik yang komersial (masyarakat pada umumnya) maupun yang gratisan (tanya siapa).

Bagi Penulis, Pemadaman Listrik oleh PLN dalam kasus Krisis Energi Listrik ini bisa dianalogkan seperti seorang Kepala Keluarga (Suami dan Ayah) yang tidak mampu memberi makan 3 kali sehari kepada Istri dan Anak-anaknya, kemudian membuat solusi masalah (yang timbul dari dirinya sendiri) tersebut, yakni membuat kebijakan dengan meminta Istri dan Anak-Anaknya untuk hidup berhemat (baca: makan 1 sampai dengan maksimal 2 kali sehari). Baik dan bijaksanakah kebijakan/solusi dari Suami/Ayah tersebut? Jelas tidak! Lantas bagaimana solusinya? Karena masalah ini sudah menyangkut hak dan kewajiban dalam berkeluarga, maka bagaimanapun kondisinya, si Suami/Ayah tersebut berkewajiban harus bisa memberi nafkah dan memberi makan layak untuk Istri dan Anak-Anaknya bagaimanapun caranya (kecuali cara-cara yang dilarang Tuhan tentunya). Kalau ia tidak bisa menjalankan kewajibannya, tanyakan otaknya ditaruh dimana saat ia berencana mengawini anak orang? Sedangkan Istri dan Anak-Anaknya juga tentu memiliki kewajiban menjaga dengan baik pemberian si Suami/Ayah tersebut serta membiasakan diri hidup berhemat. Hidup berhemat bisa memiliki arti dan makna yang luas, yang jelas bukan berarti mendiscount waktu makan dari 2 kali sehari menjadi 2 kali sehari, karena waktu makan adalah vital bagi kesehatan yang tak bisa ditawar lagi, namun makan secukupnya (tidak berlebihan), menghabiskan makanan yang disediakan, tidak membuang-buang makanan (membuang rejeki dari Tuhan).
PLN (dianalogkan dengan si Suami/Ayah tersebut) tentu sangat-sangat tidak bijaksana dan aneh serta tidak masuk akal sehat Penulis bilamana membuat solusi krisis energi listrik dengan hanya meminta/menghimbau konsumen pengguna listrik (yang dianalogkan sebagai Istri dan Anak-Anak tersebut) untuk menghemat konsumsi listrik tanpa melakukan aksi gerak cepat dan serius untuk melakukan pembenahan diri secara internal dan eksternal.
Sebuah Keputusan menunjukkan kualitas pembuat keputusan. Bagi Penulis, Solusi Pemadaman Listrik secara berkala, bergilir, dan sepihak tersebut adalah salah satu keputusan terbodoh dan paling memalukan yang pernah Penulis temui sepanjang hidup Penulis.

Penyebab masalah Krisis Energi Listrik di Indonesia:

  • Pola dan Rencana Pengadaan Energi Listrik yang tidak baik
  • Pola dan Rencana Distribusi Energi Listrik yang tidak baik
  • Instalasi dan Infrastruktur pada Sumber Energi Pembangkit Listrik yang tidak baik/memadai
  • Pengadaan dan Pemberdayaan serta Distribusi Energi Listrik tidak dilakukan secara professional
  • Instansi terkait tidak antisipatif terhadap konsekuensi dan dampak dari Kenaikan Harga BBM dunia dan Indonesia
  • Menurut PLN, penyebab utama dari krisis energi listrik di Indonesia karena tidak berimbangnya pasokan yang dimiliki PLN dengan permintaan energi listrik oleh konsumen (masyarakat)
  • Dikabarkan karena tersendatnya pasokan batu bara pada sumber pembangkit energi listrik. Benarkah? Bila benar, apakah karena masalah harga BBM yang tinggi? Tanya Kenapa.
  • Dikabarkan karena masalah teknis, yakni kerusakan pada sumber pembangkit energi listrik. Benarkah? Tanya Kenapa.
  • Dugaan kuat, masalah harga BBM untuk pengangkutan Batu Bara dan/atau Mafia Energi Indonesia. Ya semua orang tahu bahwa INDONESIA adalah LADANG TIKUS dan BAJINGAN berdasi dan berduit.
  • Dugaan Kuat, Krisis Mental Pejabat, Penguasa, dan Pengusaha Indonesia yang terkait dalam Pengadaan dan Pemberdayaan Energi Listrik di Indonesia. Ya, semua orang tahu mental pejabat di Indonesia. Ya semua orang tahu bahwa INDONESIA adalah LADANG TIKUS dan BAJINGAN berdasi dan berduit.
  • Kita tentu tahu bahwa Harga BBM yang tinggi sangat beresiko terhadap terjadinya krisis energi listrik. Nah bila ini yang menjadi sebab, maka tentu masalh ini akibat ulah dari Sdr. JUSUF aKAL-akaLAn yang selalu sok bergaya memainkan peran sebagai RI-1 yang secara bodoh menjadi king maker pembuatanbanyak keputusan kenegaraan tidak cerdas seperti “Menaikkan Harga BBM Indonesia” tanpa memikirkan dengan akal sehat (bukan akal seorang pengusaha) banyaknya dampak negatif dan resiko akibat keputusan tersebut, dan tanpa memikirkan banyak solusi lain (selain menaikkan harga BBM) untuk menjaga kestabilan Anggaran APBN dan meningkatkan pemasukan kas negara seperti: Pembatasan Penggunaan Kendaraan Pribadi untuk menghemat BBM, Pembatasan Pembelian BBM, Penarikan investor dengan lebih intensif dengan ribuan cara, peningkatan pemasukan kas negara dari sektor pajak, pemberantasan korupsi dan kolusi di lingkungan pemerintahan dan lembaga lain yang terkait, Pennggenjotan dan peningkatan daya dan mutu serta hasil dari sektor riil – UKM di indonesia, dan masih banyak lagi solusi cerdas lain yang lebih arif, bijaksana, dan berpihak kepada masyarakat.

Dampak Negatif Krisis Energi Listrik di Indonesia:

  1. Dunia Usaha mengalami hambatan hingga stagnasi dalam menjalankan usahanya,
  2. kerugian pelaku usaha secara materiil (money loss)
  3. kerugian pelaku usaha secara inmateriil seperti:
  • berkurangnya hingga hilangnya kepercayaan konsumen terhadap pelaku usaha,
  • terjadinya pengangguran karena karyawan terpaksa diliburkan,
  • resiko kerusakan mesin karena mesin sering tidak bisa dijalankan,
  • kehilangan efisiensi waktu dan tenaga, martabat umat dan bangsa Indonesia di mata dunia — Apa Kata Dunia?,
  • berkurangnya hingga hilangnya kepercayaan konsumen energi listrik di Indonesia terhadap Pemerintah dan PLN
  • Larinya Investor Domestik maupun Asing dari pasar Indonesia karena tiadanya jaminan energi listrik dan jaminan usaha di Indonesia serta berkurangnya hingga hilangnya kepercayaan terhadap Pemerintah dan PLN
  • Rentetan masalah dari larinya Investor berakibat banyak hal diantaranya, terhambatnya kemajuan pembangunan ekonomi dan bidang lain yang terkait baik di lingkup kenegaraan maupun daerah
  • Kualitas dan kuantitas Pencurian Listrik oleh warga makin meningkat
  • Terhambatnya kreativitas anak bangsa yang menggunakan sarana listriknya untuk implementasi kecerdasan otaknya
  • Terganggunya proses recovery pasien dan pengembangan penemuan di laboratorium pada dunia kesehatan.
  • Resiko gejolak sosial pada masyarakat luas yang bisa berakibat menjadi chaos.

Solusi masalah Krisis Energi Listrik di Indonesia:

  1. PLN bersama pihak swasta penyedia sumber energi yang ditunjuk harus melakukan perbaikan kebijakan pengadaan dan distribusi listrik,
  2. PLN bersama pihak swasta penyedia sumber energi yang ditunjuk harus melakukan perbaikan instalasi, infrastruktur, dan teknis pengadaan energi listrik,
  3. PLN bersama pihak swasta penyedia sumber energi yang ditunjuk harus melakukan perbaikan pola distribusi listrik ke konsumen,
  4. Pemerintah melalui PLN bersama pihak swasta penyedia sumber energi yang ditunjuk harus memberikan Jaminan keberadaan dan keberdayaan energi listrik per 1×24 Jam kepada konsumen dan pihak investor, baik domestik maupun asing.
  5. Pemerintah harus memiliki sistem kontrol dan sistem filter yang baik untuk menyaring siapa yang layak diberi kepercayaan dan kewenangan untuk melakukan pengadaan, pengelolaan, dan distribusi energi listrik ke konsumen (masyarakat)
  6. Sikat habis Mafia Energi di Indonesia, khususnya Mafia Energi Listrik dan Batu Bara, khususnya pemilihan pejabat di lingkungan PLN dan proses tender swasta untuk pengadaan energi listrik dan batu bara.
  7. DPR dan DPRD harus tanggap terhadap masalah ini dengan melakukan sidak dan pengusutan masalah krisis energi listrik di lapangan, dan bila terbukti ada indikasi unsur kesengajaan hingga mengakibatkan terjadinya krisis energi ini, hingga mengarah pada pidana, maka Pihak POLRI wajib turun tangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan guna segera menuntaskan masalah agar tidak berkepanjangan
  8. Konsumen harus membiasakan diri berhemat (tidak konsumtif) dalam menggunakan energi listrik
  9. Kompensasi Riil dari PLN dan Pemerintah kepada konsumen energi listrik (seperti pada tahun 2005) sebagai ganti rugi atas pemadaman listrik secara berkala, bergilir, dan sepihak.
  10. Disarankan bagi konsumen energi listrik untuk memasang Genset (electrical power backup device) karena PLN dan Pemerintah makin tidak bisa dipercaya dan diandalkan (higly recommended)
  11. Not Bullshit from the Rats!

Masyarakat umum tahu bahwa masalah krisis energi listrik di Indonesia sekarang ini tidak hanya bersumber dari PLN saja, namun juga dari pihak swasta pemasok energi listrik, juga tentu pihak pemerintah yang terbukti tidak memiliki sistem kontrol dan sistem filter yang baik untuk menyaring siapa yang layak diberi kepercayaan untuk pengadaan, pengelolaan, dan distribusi energi listrik ke konsumen (masyarakat).
Namun, meski begitu, pihak PLN lah yang harusnya paling bertanggung jawab terhadap kasus ini mengingat eksistensinya sebagai badan negara tunggal (monopoli) yang diberi kepercayaan dan kewenangan oleh Pemerintah dalam pengadaan dan pemberdayaan energi listrik terbukti tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik dan benar.

Sebenarnya dari dulu kita sudah bermasalah dengan energi listrik, Coba kita telusuri ada berapa banyak daerah yang hingga detik ini belum tersentuh aliran listrik. Mungkin para pejabat yang terkait lupa/tidak tahu bahwa keberadaan energi juga dijadikan sebagai salah satu parameter kemajuan suatu bangsa.

Kita tunggu adakah niat baik dari Pemerintah, PLN, dan lembaga terkait segera menyelesaikan masalah krisis energi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, sebagai Solusi-Solusi tersebut di atas, dan kita juga tunggu adakah niat baik mereka untuk memberikan kompensasi riil kepada konsumen energi listrik di pulau Jawa, Indonesia atas terjadinya pemadaman listrik yang berkala, bergilir, dan sepihak.
Bila terbukti tidak ada niat baik (mudah-mudahan tidak), lalu….Tanya Kenapa????? Kita berharap Listrik di Indonesia akan segera diatasi bukan makin dibatasi, sehingga Indonesia tidak akan menjadi gelap saat dunia makin terang benderang, Amen…

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi Kasus Energi Listrik yang terjadi di Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan Sumatra.
Tulisan ini juga dibuat untuk menanggapi pernyataan Bapak Purnomo Willy (GM PLN Jakarta-Tangerang) dalam dialognya bersama Bapak Sudaryatmo (Pengurus YLKI Bidang Kelistrikan) di TVOne.

Artikel Terkait:
– Krisis ListrikAncam Investasi (Sinar Harapan)
– Investor Jepang Ancam Keluar Indonesia (Tempointeraktif.com)
– Bank Dunia Nilai Infrastruktur Listrik Indonesia Mengkhawatirkan (Kompas.com)

Salam

Advertisements

Pemblokiran Situs Hosting Film “FITNA” – Buru Poli(Tikus) Dengan Bakar Gudang Beras

Pemblokiran Situs Hosting Film Fitnah berjudul “FITNA” seperti Berburu (Poli)Tikus Dengan membakar Gudang Beras.

JANGAN BACA ARTIKEL INI BILA ANDA TIDAK TERBIASA ATAU TIDAK INGIN MENGHARGAI KEBEBASAN BERPIKIR SESEORANG.
JANGAN LIHAT FILM FITNAH BERJUDUL “FITNA” BILA ANDA TIDAK INGIN ATAU TIDAK MAMPU MEMBEDAKAN ANTARA KEBENARAN HAKIKI DAN KEBENARAN PALSU
.

(Contemplation)

Seperti yang telah diketahui masyarakat luas, beberapa waktu yang lalu, Menkominfo (Indonesia) — Mr. Muhammad Nuh mengeluarkan ‘Surat Sakti’ yakni Surat edaran bernomor 84/M.KOMINFO/04/08 yang dikirimkan kepada 146 Internet Service Provider (ISP) dan 30 Network Access Provider (NAP) di Indonesia yang mana isi Surat Edaran tersebut memerintahkan ISP dan NAP tersebut untuk memblokir akses ke semua Situs Web File Hosting maupun WebBlog (Blog) yang menyajikan Film Fitnah berjudul “FITNA” karangan Geert Wilders.

Sebenarnya Penulis cukup malas menulis artikel yang mau tidak mau berbau sara dan politis ini dalam menanggapi Pemblokiran situs-situs File (video) Hosting yang memuat Film Fitnah yang lucu berjudul “FITNA” karangan Geert Wilders – (Poli)Tikus lucu Asal Belanda itu, namun akhirnya Tak kuasalah Jiwa Penulis menahan senggara berhari-hari, kini tumpah sudah hati kecil Penulis menjadi coretan pena di Blog Penulis ini.

SUARA HATI:

  1. Anggapan “KITA JANGAN TERPANCING OMONGAN/KELAKUAN ORANG LAIN” adalah sebuah kesalahan, kenapa tidak diganti saja dengan kalimat: “BIASAKANLAH KITA SELALU TERPANCING SECARA BIJAKSANA TERHADAP KESALAHAN OMONGAN/KELAKUAN ORANG LAIN YANG PERLU KITA PERBAIKI DAN KEMBALIKAN KE JALAN YANG LURUS DAN BENAR”.
  2. Bila Kita tidak ‘TERPANCING’, berarti Telah Matilah Kepekaan Hati dan Jiwa Kita terhadap keadaan serta kejadian-kejadian di lingkungan hidup Kita bersama.
  3. Penulis Seorang MUSLIM
  4. Penulis BUKAN Anti NON-MUSLIM, dan Mencintai serta Menghargai Sesama Umat Beragama
  5. Penulis Makin Muak dengan Provokator Murahan seperti Geert Wilders serta berita-berita yang memuat aksi ‘akrobatiknya’ yang sudah kuno.
  6. Pembutaan Pemerintah RI terhadap sebuah kejahatan (yang dilakukan Geert Wilders) sama dengan Penutupan Masalah dan Pencucian Bukti Kejahatan (yang dilakukan Geert Wilders)
  7. Pemblokiran Situs Web File Hosting dan Blog yang memuat Film “FITNA” merupakan PENGEBIRIAN TEKHNOLOGI. Tak seorangpun di dunia ini yang mampu menghambat laju deru tekhnologi.

Apa yang dilakukan Menkominfo bisa dianalogkan Berburu Babi Hutan Dengan Membakar Hutan atau membakar Gudang Beras hanya untuk membunuh seekor (poli)Tikus.
Apakah kita ini bangsa yang biasa/suka memformat hardisk hanya karena satu virus kecil saja?
Mr. Nuh, let me help You to inform that…..YouTube, MetaCafe, RapidShare, MySpace, or any Blog Sites are all just Forests of Data, nothing more, even though they disobey You to ban or remove “FITNA” movie. You can not blame them and You can not stop us to find them. I think You’d better to Blame The “FITNA” movie maker and Its content uploader.
Tidak Adakah cara-cara lain yang lebih rasional Mr. Nuh? Pernahkah Mr. Nuh dan para Tekhnolog di belakang jajarannya berpikir segudang manfaat lainnya dari sebuah RapidShare atau YouTube dari hanya sekedar alat pencari sensasi seperti yang dilakukan Mr. Wilders? Pernahkah terbayangkan bahwa kebijakan Anda dengan aksi pemblokiran situs dan Blog menimbulkan banyaknya dampak efek buruk secara material ataupun inmaterial dari kalangan para pebisnis atau siapapun juga yang mengandalkan atau menggantungkan usaha atau aktifitas pertukaran data di internet dengan menggunakan situs-situs yang Anda blokir tersebut? Banyak pihak yang sama sekali tidak ada kaitan/relevansi dengan Film “FITNA” ataupun Geert Wilders telah menanggung kerugian yang tidak tanggung-tanggung, Mr. Nuh!!!!
Mr. Nuh, STOP Sikap GENERALISASI Anda! Tolong Pikirkan Banyak kepentingan lain yang tidak ada kaitan sama sekali namun harus menanggung kerugian dari aksi Pemblokiran Anda. Janganlah membuat seolah-olah kita dan bangsa Indonesia yang besar ini seperti anak kecil atau bangsa kerdil yang tidak melek tekhnologi atau religi.

Bagi Penulis, Biarkan saja Film “FITNA” itu disaksikan oleh semua umat beragama seluruh dunia;
Dengan begitu, Film tersebut bisa menjadi sebuah sarana, dimana akan menjadi sebuah kesempatan baik bagi kaum Non-Muslim untuk bertanya kepada kaum Muslim, dan
akan menjadi kesempatan emas bagi umat muslim untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang suatu kebohongan dibalik kebenaran palsu seorang Geert Wilders.
Perlihatkan saja film “FITNA” kepada anak-anak umat muslim kita sebagai sebuah pendidikan, tentu dengan keterangan-keterangan yang bijaksana dan tidak menyesatkan;
Biarkanlah saja anak-anak kita dari kecil sudah dibiasakan melihat KEBENARAN YANG PALING BENING dan KEJAHATAN YANG PALING HITAM KELAM dengan pemahaman yang benar, bijaksana, dan tidak menyesatkan. Biarkan mereka tahu warna-warni dunia (tentu saja dengan pengawasan dan kontrol orang tua) agar sejak kecil otak mereka sudah terbiasa digunakan untuk berpikir (bukan sebagai gudang data), sehingga sejak dini mereka bisa terlatih untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu yang baik dan yang paling hakiki sekaligus terhadap sesuatu yang buruk dan paling kejam.
Kalau tidak begitu, kenapa dan apa artinya para orang tua mengajarkan anak-anak mereka tentang Siksa Kubur dan Siksa Api Neraka yang sangat mengerikan itu? Kalau banyak orang ingin masuk surga, tetapi kenapa mereka takut mati dan takut melihat siksa neraka?
Kenapa dan apa artinya orang tua mengajarkan anak-anak mereka tentang kehidupan dan kematian, juga alam setelah kematian?

Anyway, Penulis sendiri sudah menonton Film “FITNA” tersebut sepenuhnya dan hampir 80% kontennya seperti yang telah Penulis (juga tentu kaum Muslim pada umumnya) telah duga sebelumnya.
Kontennya yang walaupun diplesetkan/direkayasa dan diambil secara sepotong-sepotong yang menyesatkan. Melihat suatu hal/kasus/masalah secara sepenggal-sepenggal, tentu hanya akan menghasilan penggalan/fragmentasi sebuah kesimpulan yang salah dan menyesatkan belaka. Namun Trust Me, Trust GOD! Konten di dalam film “Fitna” sama sekali tidak membahayakan umat muslim juga umat non-muslim, justru akan menjadikan pencerahan dari banyak sudut pandang, tentu dengan pengambilan sudut pandang yang baik, benar, dan bijaksana. Ingat lho, Mr. Nuh, Semua kan bisa diambil manfaatnya.

Menurut Penulis, apa yang coba disampaikan Geert Wilders melalui Filmnya “FITNA” mencerminkan:

  1. Si Pengarang Film adalah Jago ‘Plesetan’ suatu kebenaran. (Master of Slip of the Tongue ..eh.. Truth)
  2. yang tidak mampu hidup dalam dimensi perbedaan budaya masa kini.

  3. Upaya mencari Popularitas Diri belaka (Apa di Holland tidak ada Audisi Holland Idol, Bung Wilders? 🙂 )
  4. Upaya FITNAH belaka dengan berupaya mempengaruhi masyarakat dunia agar beramai-ramai menghujat dan memusihi ISLAM dengan memberikan LABEL-LABEL (yang salah dan menyesatkan) bagi ISLAM seperti: “ISLAM IS TERRORISM“, “ISLAM IS A KILLING MACHINE“, “ISLAM IS ANTI-FREEDOM“, atau yang paling menggelikan, ditunjukkan “ISLAM IS HITLERISM” (sangat mustahil bagi seorang muslim sejati untuk meneriakkan yel-yel “Long Life, Hitler!”), dan sebagainya.
  5. Upaya PemecahBelahan Umat Beragama pada khususnya dan Umat Dunia pada umumnya.
  6. Kebodohan dan Kegagalan seseorang dalam melihat Visi dan Realita Makro dengan sudut pandang Mikro menggunakan satu kacamata saja
  7. PemutarBalikan Fakta yang sudah nyata-nyata diketahui Banyak Umat Beragama yang dengan kepercayaan heterogen.
  8. Merupakan Ketakutan Seseorang terhadap Sebuah Kebenaran (Afraid of Truth)
  9. Merupakan Ketakutan Seseorang terhadap Sebuah Kenyataan (Afraid of Reality)
  10. Merupakan Ketakutan Seseorang terhadap Sebuah Ketegasan (Afraid of Strictness)
  11. Merupakan Ketakutan Seseorang terhadap Kekompleksan Budaya Manusia Dunia (Afraid of Human Culture Complexity) dan terhadap Perbedaan Budaya-Budaya Manusia Dunia yang heterogen (Afraid of Human Cultures)
  12. Provokasi yang sudah terlalu basi untuk dijadikan bahan sanggahan ataupun bahan olok-olok belaka.

Ketika Geert Wilders meneriakkan “STOP ISLAMISATION!” pada Filmnya, Penulis, sebagai seorang Muslim, tidak akan membalasnya dengan meneriakkan yel-yel “STOP CHRISTIANISM!” atau “STOP CHRISTIANISATION!“, namun Penulis lebih suka memilih meneriakkan “STOP BULLSHITISM!“, atau “STOP PROVOKING!” atau “BEHEAD WILDERS! – HIS BLOOD IS COMPLETELY YOURS!
Sadarkah kita semua sebagai umat beragama atau penganut kepercayaan yang heterogen bahwa tiap-tiap agama atau kepercayaan TAK TERKECUALI tentu akan melakukan PEREKRUTAN UMAT (seperti Islamisation atau Christianisation), Lalu Apa anehnya Perekrutan Umat? Rumah Penulis saja beberapa tahun yang lalu pernah 3x dilempari Bible oleh (kemungkinan besar) Seseorang/sekelompok Umat Gereja Utusan Pantekosta (GUP) sebelah rumah yang tujuannya jelas — “Christianisation”.
Marahkah Penulis? TIDAK! Lain hari, dengan Senyum tulus, Penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak Gereja atas pemberian Bible-nya. Penulis sampaikan kepada mereka bahwa Bible tersebut akan Penulis gunakan untuk Studi Banding Religi dengan harapan agar dengan saling mengerti dan memahami keragaman budaya, kepercayaan, dan tradisi dalam menjalankan agama/kepercayaan masing-masing, kita bisa makin bisa menghargai kebebasan dalam memilih arah kehidupan serta dalam memeluk suatu agama/kepercayaan dan menjalankan tradisi/budaya di dalam koridor agama/kepercayaan masing-masing (FREEDOM OF LIFE – FREEDOM OF FAITH).
Bagaimana seorang Wilders yang tidak tahu kebenaran ajaran Islam atau paling tidak, tahu sepenggal-sepenggal tentang Islam bisa ‘bicara’ lantang secara utuh tentang Islam? Tentu saja mustahil, terutama bila Wilders cukup berani untuk diajak berdebat secara bijaksana (bukan debat kusir)?
Cukup mampu dan kuatkah kepala dia menampung kebenaran yang hakiki yang ternyata belim pernah ia ketahui sebelumnya. He will surely have his head blown into pieces for seeing the real Thruths. No doubt about it.

HHHHMMM…, HARE GENE BICARA SARA dan RASIAL %$#@#&*!(+?? SUDAH BIUKAN JAMANNYA

Penulis harap Tulisan Artikel ini tidak diplesetkan atau disalahartikan oleh Siapapun juga.
karena Penulis sama sekali tidak bermaksud memojokkan apalagi menghina suatu agama atau kepercayaan lain selain Islam

Anda tidak harus setuju dengan pikiran Penulis
Anda pun juga tidak harus tidak setuju dengan pikiran Penulis
Semoga Anda Bisa Memahami dan Memaknai Pikiran Penulis Ini.
Mari kita Berpikir, dan Menjadikan dua Kasus ini sebagai bahan Renungan dan sarana untuk introspeksi.

GOD WILL ALWAYS BLESS ANYONE WHOSE LIFE FOR HIM
GOD WILL ALWAYS BLESS ANYONE WHOSE HEARTS FOR PEOPLE
GOD WILL ALWAYS BLESS ANYONE WHOSE SOUL FOR TRUTH
GOD WILL ALWAYS CONDEMN ANYONE WHOSE THOUGHTS FOR LIES AND HELL

FIN
SALAM

(Contemplation)