Membuat Ikon Vista dengan IconCool Studio dan Photoshop CS3

Membuat Ikon Vista dengan IconCool Studio dan Photoshop CS3

Icon_Vista_thumbnail.jpg

Icon_Vista_thumbnail.jpg

Bagi Anda pengguna Windows Vista, saat pertama kali anda menjelajahi fitur dari sistem operasi komputer terbaru dari  Microsoft ini, Anda mungkin cukup kaget dan/atau terkesan setelah melihat Ikon Folder yang tampak lebih besar dan cantik dengan detail gambar yang lebih bagus bila dibandingkan dengan ikon folder pada sistem operasi sebelumnya seperti Windows XP.
Ya, memang Microsoft telah meningkatkan kualitas performa grafis pada sistem operasi Windows Vista, hal ini tentunya sekaligus juga untuk sedikit bisa mengejar ketertinggalan kualitas grafis dari OS Mac terbaru milik Apple. Pada Windows Vista, Microsoft telah mengupdate engine grafisnya termasuk DirectX-nya (DirectX 10) yang dicangkokkan ke dalam sistem operasi Windows Vista.
Dengan update tersebut, maka pada Windows Vista, kualitas gambar baik still image maupun image rendering untuk gaming orientation, tampak lebih baik, lebih hidup (real-like) dan lebih halus (smooth) (pada animation artworks).
Salah satu implementasi dari update tersebut tampak pada ukuran Ikon yang ditampilkan sebagai representasi dari sebuah folder.
Seperti diketahui, sebagai perbandingan, besaran ukuran maksimal untuk Ikon yang bisa ditampilkan di layar monitor pada 3 (tiga) sistem operasi adalah sebagai berikut:
– Apple Mac : 512 x 512 Pixels
– Microsoft Windows Vista : 256 x 256 Pixels
– Microsoft Windows XP : 128 x 128 Pixels
Hingga saat ini, lagi-lagi Microsoft memang masih harus mengakui keunggulan kualitas grafis dari Apple Computers.

Teknik Visualisasi akan lebih memudahkan mata mengenali sebuah objek asing
Artikel ini ditujukan sebagai tutorial bagi Siapapun juga yang ingin dan tertarik untuk bisa membuat sendiri Ikon Vista (256 x 256 pixels) yang akan digunakan untuk penanda Folder Pribadi atau sembarang folder lainnya.

Tool-tool yang perlu disiapkan:

  1. Program Pengolah Gambar untuk membuat gambar Vektor Image (Adobe Illustrator CS3/CorelDraw X4/Adobe Flash CS3)
  2. Program Pengolah Gambar yang bisa membuat Transparent Image (Penulis menggunakan Adobe Photoshop CS3)
  3. Program Pembuat Ikon yang sudah support Vista Icon – 256 x 256 Pixels (Penulis menggunakan IconCool Studio versi 3.34)

Keterangan: No. 1 bisa diabaikan apabila Image yang akan digunakan sebagai Ikon tidak dibuat/digambar sendiri, namun melalui image capturing/scanning.
Pada tutorial ini, Penulis mengcapture gambar dari Web sebagai objek yang akan dijadikan sebagai Ikon.

Langkah-Langkah Pembuatan Ikon Vista (Vista Icon):

Langkah I – Pembuatan Transparent (Image’s) Background: :

  1. Buka Program Adobe Photoshop CS3
  2. Dengan Adobe Photoshop CS3, Buka Gambar yang sudah dicapture — dalam tutorial ini: Football_01_(icon_vista).jpg.
  3. Buat Image’s Background menjadi Transparan. Konversi JPG ke PNG. Agar kualitas hasil gambar Ikon tampak lebih baik, lebih enak dipandang mata, serta tidak tampak kotor dan membosankan, maka Image’s Background sebaiknya dihapus dengan metode Transparansi. Format Image dengan Transparent Background harus disimpan dalam format .PNG. karena format bitmap image seperti BMP atau JPG tidak memungkinkan mengakomodasi transparent object.
Photoshop CS3 Create Transparent Background 1

Photoshop CS3 Create Transparent Background 1

Photoshop CS3 Create Transparent Background 2

Photoshop CS3 Create Transparent Background 2

Teknis Pembuatan Transparent (Image’s) Background:

  1. Gunakan Magic Wand Tool untuk menyeleksi/memilih background yang akan dihilangkan (dijadikan transparan). Bila ada kesalahan atau perubahan pada proses penyeleksian, Anda bisa gunakan kombinasi tombol Klik Kiri + Shift untuk menambahkan selected area atau kombinasi tombol Klik Kiri + Alt untuk mengurangi/menghapus/diselect selected area.
  2. Selanjutnya, ubah ukuran ke standar ukuran Vista Icon, yakni 256 x 256 pixels. Tekniknya, pada Main Toolbar, pilih dan klik “Image”, kemudian pilih dan klik “Image Size (ALT+CTRL+I)”. Pada Pixel Dimensions, pilih satuan “Pixels” dengan ukuran gambar: Lebar (Width)= 256 dan ukuran Panjang/tinggi (Height)= 256. Sebagai catatan, sebenarnya, image size tidak dirubah juga tidak menjadi masalah, tujuannya hanya sebagai presisi image dimension disesuaikan dengan Vista standard icon format sekaligus merampingkan file sizenya saja, toh pada proses import pada program IconCool Studio, image size akan disesuaikan dengan besaran ukuran-ukuran standar untuk ikon (seperti terlihat pada screenshot di bawah)
  3. Kemudian, pada Main Toolbar, pilih dan klik “Edit”, kemudian pilih dan klik “Fill” untuk mengisi selected area (background) dengan transparansi. Pada kolom “Blending” , pilih Mode “Normal” dan Set “Opacity (Transparansi)” pada level maksimal — 100%.
  4. Selanjutnya, pada Main Toolbar, pilih dan klik “Select”, kemudian pilih dan klik “Inverse” untuk memilih obyek non background. Teknik ini akan membalik/menukar selected area (background) ke/dengan diselected area (obyek utama non background).
  5. Copy inverted selected object (ke Windows Clipboard dengan Edit-> Copy atau CTRL+Copy),
  6. Buat Layer baru (layer 1), dan Paste ke dalam Layer baru tersebut.
  7. Terakhir, Simpan image dengan format Portable Network Graphics (PNG), dimana pada PNG Options, bisa dipilih apakah “None”: web oriented image : menampilkan image pada browser hanya bilamana obyek telah sepenuhnya terdownload, atau “Interlaced”: web oriented: menampilkan image pada browser dengan resolusi rendah demikian halnya dengan kualitas gambar. Dengan teknik Interlacing, akan membuat waktu download gambar lebih cepat, namun teknik ini juga menyebabkan ukuran file gambar lebih besar.

File Project-nya bisa disimpan ke dalam format .PSD

Setelah kita selesai membuat Objek Image yang akan dijadikan sebagai Ikon dengan kondisi background transparansi dengan format .PNG, maka kini Objek Image tersebut tinggal dibuka dengan Program pembuat Ikon seperti IconCool Studio versi 3.34.

Langkah II – Import dan Konversi .PNG Image menjadi Vista Icon:

Vista Icon - created by IconCool Studio v3.34

Vista Icon - created by IconCool Studio v3.34

  1. Buka Program IconCool Studio
  2. Pada Main Toolbar, Pilih dan Klik “File”, kemudian “Open” atau “Import”, lalu pilih obyek Image .PNG yang telah selesai dibuat
  3. Pilih ukuran Ikon (Icon Image Size) dan Kedalaman Warna Icon (Icon Color). Pastikan checkbox ukuran 256 * 256 (256×256) terpilih/tercentang/marked. Pada Custom Size lebih baik ditambahkan ukuran Ikon standar maksimal XP, yakni 128 x 128 Pixels agar komposisi Ikon yang akan dibuat semakin lengkap. Catatan: Semakin banyak pilihan Anda, semakin besar pula ukuran file Ikon yang Anda buat.
  4. Klik tombol “Import Now”
  5. Setelah Objek Image .PNG berhasil dibuka/diimpor dan muncul pada layar editor, maka Anda bisa melakukan edit gambar Ikon sesuka Anda sebelum melakukan proses penyimpanan file atau Anda bisa langsung menyimpan image tersebut dalam bentuk Ikon (format .ICO).
  6. Simpan Obyek .PNG yang telah berhasil diimport tersebut dengan teknik: Klik Menu “File”, kemudian pilih “Save As Image”, dan terakhir, Anda simpan dalam format .ICO dengan sembarang nama file kesukaan Anda.

Bila Anda menginginkan untuk membuat (menggambar) sendiri gambar untuk Anda persiakan sebagai ikon folder, Anda bisa menggunakan kombinasi program pengolah vektor seperti Adobe Illustrator atau CorelDRAW dan program manipulasi bitmap seperti Adobe Photoshop atau Corel PhotoPaint.
Teknisnya:

  • Buat gambar vektor dengan menggunakan program, misal CorelDRAW X4. Sebagai File Project, Anda simpan hasil olah gambar Anda dengan format CorelDRAW Imge (.CDR) agar Anda bisa modifikasi di lain waktu, atau Anda bisa langsung Save As/Export gambar tersebut ke dalam format .PNG. Bila Anda ingin mengolah gambar yang telah tersimpan tersebut dengan efek bitmap manipulation, , Anda bisa gunakan program seperti Adobe Photoshop atau Corel PhotoPaint.

Di bawah ini adalah link salah satu contoh image .PNG (WordPress Icon edisi Valentine — wp-valentine-logo.png) yang mana, gambar vektornya Penulis buat dengan CorelDRAW dan manipulasi bevel-nya Penulis olah dengan Corel PhotoPaint. Gambar ini bisa Anda simpan dan bisa Anda import untuk dijadikan Folder Icon pada Windows Vista maupun Apple Mac.

https://henryussa.wordpress.com/2008/02/13/happy-valentine-day/

Semoga Bermanfaat
Salam

Advertisements

Mewarnai Photo Tua Hitam-Putih Dengan Photoshop CS3

Mewarnai Photo Tua Hitam-Putih Dengan Photoshop CS3

Little Henry (Colorized)

Little Henry (Colorized)

Make Your Dead Memories Alive!
Kemungkinan besar Anda memiliki Album Photo-Photo Hitam-Putih Tempoe Doeloe yang menggambarkan masa kecil Anda dan/atau Keluarga Anda; dan Anda mungkin suka bernostalgia atau hanya sekedar ingin kembali sesaat kepada sebuah kenangan masa lalu dengan melihat Photo-Photo Tua tersebut.
Namun sayang, kenangan Anda tidak akan sempurna dan akan cukup terganggu hanya karena Anda tidak bisa melihat keaslian warna pada cetakan photo-photo tersebut karena Photo-Photo tersebut memang photo hitam-putih, Kenapa begitu? Ya, karena jaman dulu belum ada program pengolah gambar dan tekhnologi cetak gambar berwarna.
Lalu bagaimana Seorang Ibu bisa menceritakan kepada Anaknya tentang Kakeknya (Almarhum) yang pernah konyol karena memakai topi warna pink?
Jangan khawatir, Bu! Kan sekarang tekhnologi sudah maju! Kan sekarang sudah ada program pengolah gambar dan tekhnologi cetak gambar berwarna.
Dengan begitu, sekarang kita bisa memberikan sembarang warna yang kita inginkan ke dalam photo-photo tempoe doeloe hitam-putih kita, dan mencetaknya dengan printer warna.
Mari, Bu, kita warnai dan hidupkan kenangan Anda!

Di bawah ini, Penulis sampaikan Teknik sederhana bagaimana Mewarnai Photo Tua Hitam-Putih dengan menggunakan Program Adobe Photoshop CS3.
Gambar (photo) yang Penulis gunakan sebagai sample adalah photo Penulis saat masih Bayi. Sebagai catatan, photo tersebut benar-benar asli photo hitam-putih!

Peralatan Yang Perlu Disiapkan:

  1. Komputer (dengan Spesifikasi memadai untuk keperluan Digital Imaging)
  2. Image Scanner (merk CanoScan, HP, atau sembarang lainnya)
  3. Program Pengolah Gambar (Adobe Photoshop CS2/CS3)
  4. Photo Tua Hitam-Putih Anda (Sebaiknya Anda Backup terlebih dahulu)
  5. Secangkir kopi dan rokok (not recommended)

Langkah-Langkah Mewarnai Photo Tua Hitam-Putih:

  1. Pertama kali, Anda harus Scan dulu Photo Tua Hitam-Putih Anda dengan mesin Scanner Anda. Sebagai Contoh Penulis dibantu Program ACDSee untuk melakukan Image Scnning.
  2. Buka Program Adobe Photoshop CS3
  3. Buka hasil Scan Photo Tua Hitam-Putih dengan Adobe Photoshop CS3
  4. Teknis Olah Gambar:
  • Buat Layer baru dengan Copy/Duplicate Layer Image (klik kanan pada pallete layer) untuk menjaga keaslian original photo (original/first layer). Keterangan: Anda bisa menghapus duplikasi layer tersebut setelah selesai mewarnai.
  • Sebaiknya sebelum melakukan pewarnaan, Anda melakukan Edit/pengaturan Brightness/Contrast pada Duplikasi Image Layer tersebut. Caranya: Dalam kondisi Duplikasi Layer terpilih, pada Menu Bar, Pilih dan Klik menu “Image” -> “Adjustment” -> “Brightness/Contrast”. Atur Brightness/Contrast Photo sesuai keinginan Anda.
  • Kemudian, Buat Layer Baru dengan klik “create new layer” pada Layer Panel, dan set layer tersebut dengan mode “Color” dengan skala Opacity (transparansi) sebesar 100%. Anda bisa ubah nama Layer ini dari Layer 1 (default) menjadi, misal, “Transparent” Layer. Keterangan: Anda harus melakukan proses editing gambar pada layer ini, bukan pada original/first layer (layer photo); dan Layer “Transparent” ini harus berada pada posisi teratas (di atas layer lain). Jadi setelah Anda Select Layer tersebut, Anda baru bisa melakukan proses pewarnaan.
  • Dalam kondisi Layer “Transparent” terpilih, kini Anda bisa mulai mewarnai Photo Tua Hitam-Putih Anda sesuka hati Anda dengan “Brush Tool”. Jangan khawatir Photo Original Anda hancur tertumpuk cat hasil eksperimen pewarnaan Anda karena Anda tidak melakukan sapuan warna pada layer image photo tersebut, melainkan pada layer “Transparent”, jadi layer image photo tetap terjaga tak berubah sama sekali.
  • Untuk hasil yang lebih baik, untuk finalisasi image editing, disarankan Anda melakukan “Toning” pada image sebelum melakukan Penyimpanan File.
  • Setelah selesai mewarnai, Anda bisa menyimpan hasil photo Anda, dan mencetaknya dengan printer warna.

Di bawah ini Penulis tampilkan ScreenShots Proses Kreasi Image Editing Penulis dalam Pewarnaan Photo Tua Hitam-Putih tersebut:

Photoshop CS3 - Layer and Color Panel

Photoshop CS3 - Layer and Color Panel

Panduan (3 Komposisi Warna yang Penulis gunakan):

  • Warna Kulit Manusia : R=199 G=163 B=129 (Light Brown – Range Numbers – Tidak Absolut)
  • Warna Bibir Manusia : R=211 G=150 B=132 (Pinky Brown – Range Numbers – Tidak Absolut)
  • Warna Baju : R=239 G=216 B=149 (Light Yellow – Range Numbers – Tidak Absolut)
  • Warna Kursi : R=16 G=136 B=91 (Green – Range Numbers – Tidak Absolut)

Teknik Pewarnaan ini tidak hanya cocok untuk pewarnaan Black and White Image saja, akan tetapi juga ideal untuk Grayscale Image, yang walau juga berwarna Hitam dan Putih, namun memiliki kualitas gambar yang lebih baik dari Black and White Image, seperti kepadatan pixel yang lebih rapat, resolusi gambar lebih tinggi, dengan efek pencahayaan (brightness) dan kontras (contrast) yang lebih berimbang (balance).

Karena Penulis hanya melakukan Proses Pewarnaan dalam waktu cukup singkat ( kurang lebih 10 menit dan tanpa image toning), tentu hasil pewarnaan belum terlalu memuaskan untuk dipandang kasat mata,
namun, dunia tempoe doeloe tampak lebih berwarna-warni, dan kenangan masa lalu tampak terlahir kembali.

—————————-
~%~ Intermezo ~%~
—————————-
Dalam berkarya, hendaknya Anda perlu hati-hati, karena bila proses kreatif Anda tidak terkontrol, Anda bisa kebablasan atau salah arah, buntutnya, karya seni Anda bisa menjadi lain dari apa yang Anda imajinasikan atau inginkan, contohnya seperti di bawah ini ( :mrgreen: ):

Little Henry - MissOrientation

Little Henry - MissOrientation

———
Semoga Bermanfaat dan Selamat Mencoba
Salam

Stasiun TV dan Sinetron Indonesia Merusak Moral dan Seni Digitalisasi

Stasiun TV dan Sinetron Indonesia Merusak Moral dan Seni Digitalisasi

Stasiun TV dan Sinetron Indonesia Merusak Moral Masyarakat

Saya yakin hampir seluruh masyarakat Indonesia telah mengenal apa yang disebut dengan Sinetron (Sinema Elektronik) dan pernah melihat film televisi (non layar lebar) yang dibuat dengan media elektronik tersebut.
Namun, pernahkah, atau sekarang, seringkah kita mendengar, melihat, dan merasakan efek dahsyat yang sangat buruk dari tontonan sinetron yang ‘dijejalkan’ ke dalam mata kita, masyarakat pemirsa Indonesia?
Pernah Anda mendengar kisah-kisah tragis semacam Anak-anak di bawah umur (tingkat SD dan SMP) hingga orang-orang dewasa yang melakukan aksi bunuh diri karena hal-hal yang sepele?
Ya, mereka semua kini makin pintar dan makin tahu apa solusi sederhana dari sebuah kesulitan atau kekecewaan dalam hidup mereka — SUICIDE!
Mereka semua kini makin pintar dan makin tahu teknik-teknik bunuh diri yang baik dan benar hanya melalui tayangan sinetron murahan (yang diproduksi secara mahal) di televisi kita.
Beberapa waktu yang lalu, keponakan kecil saya yang sering melihat sinetron anak dan sekaligus dewasa, pernah merengek-rengek meminta sesuatu yang tidak dikabulkan oleh Ibundanya.
Dan karena kecewa,si Anak spontan mengatakan: “Ya uda, kalo begitu, aku mau bunuh diri saja!”
Percayakah Anda? Itu tidak penting, yang jelas, Penulis mendengarnya, dan Penulis menjadi saksi hidup kejadian memprihatinkan tersebut.
Kita seringkali melihat tingkah laku anak-anak di sekeliling kita yang meniru-niru adegan dan/atau percakapan anak-anak ataupun orang dewasa di dalam film-film yang disiarkan oleh stasiun televisi Indonesia.
Namun celakanya, tidak jarang penulis melihat tingkah laku dan percakapan mereka berunsur membahayakan, baik untuk perkembangan kepribadian dan moral diri mereka sendiri maupun interaksinya dengan orang lain, seperti kata-kata: “aku bunuh diri saja!” atau “nanti aku bunuh kamu lho!” atau “Aku Benci Mama!” “Ma, aku boleh pacaran?”, atau aksi-aksi individual mereka seperti melompat-lompat dari jendela, menirukan atraksi tokoh film action, dan lain sebagainya.

Dengan melihat kenyataan tersebut, tentu asal dan akar masalahnya mengerucut menjadi satu dari dua hal di bawah ini:
1. Filterisasi Stasiun Televisi
2. Pengarahan dan penjagaan Orang Tua terhadap Anak dari dampak buruk televisi beserta seluruh konten siarannya.
Bagi Penulis, Stasiun Televisi lah yang paling bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya dengan menyiarkan banyak konten visual yang seringkali menurut Penulis dan banyak kalangan masyarakat tidak pantas untuk disiarkan demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
Pengarahan dan Penjagaan Orang Tua terhadap Anak dari dampak buruk tayangan di televisi hanya merupakan akibat dari lemahnya atau tiadanya filter konten sebuah tayangan televisi pada pihak pemilik dan pengelola stasiun televisi yang bersangkutan.
Sebagai contoh, Tontonan Acara berbau Kriminal di televisi yang rating penontonnya cukup tinggi memang bisa dijadikan alat pengeruk keuntungan besar bagi pemilik/pemegang saham sebuah stasiun TV, namun sekaligus menjadi alat pengeruk kuburan bagi banyak pihak.
Acara tersebut memang bisa membuat pemirsa menjadi sadar diri dan blebih berhati-hati, namun bukti di lapangan membuktikan bahwa peningkatan jumah kriminal di Indonesia juga makin meningkat dengan adanya siaran tersebut. Tuduhankah ini? TIDAK! Kita semua bisa melihat banyaknya aksi kejahatan dengan modus-modus dan teknik-teknik kejahatan baru seperti modus dan teknik kejahatan baru yang ditampilkan dalam siaran tersebut.
Dengan kata lain, tayangan acara kriminal di televisi bisa menjadi sarana introspeksi diri dan penjagaan keamanan diri sekaligus menjadi inspirasi/ilham/motivator kejahatan-kejahatan baru.
Percayakah Anda? Itu tidak penting, karena kita bicara fakta lapangan tentang makin meningkatnya kejahatan dengan modus dan teknik kejahatan baru (juga lama) di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Seharusnya, bukan sebaiknya, pihak pemilik dan pengelola stasiun televisi lebih cerdas dalam melihat sebuah konten digital sebelum mereka siarkan melalui media televisi mereka. Seharusnya, mereka membuat filter konten digital untuk menyaring konten-konten yang tidak sepantasnya disiarkan ke publik (pemirsa).
Penulis tahu bahwa stasiun televisi memiliki filter tersebut, yang Penulis tidak tahu, kenapa filter tersebut tidak bisa difungsikan dengan baik dan benar. Yang jelas, tentu bukan karena karena wrong system ataupun wrong management, namun murni human error dan wrong humanity.
Inilah wajah asli pertelevisian dan wajah sinematografi Indonesia.

Pertanyaan Penulis kepada para produser sinetron murahan Indonesia dan pemilik stasiun televisi Indonesia:
1. Tanya: Sadarkah Anda akan efek negatif yang bisa ditimbulkan dari tayangan televisi Anda?
– Jawab: YA!
2. Tanya: Kenapa Anda tetap memproduksi sinetron kontroversial dan murahan tersebut?
– Jawab: Saya tidak peduli apa itu kontroversial atau murahan, yang ada dalam pikiran saya: Demi Uang semata! Money Talks, Man!
3. Tanya: Lalu bagaimana dengan efek negatif yang bisa dan seringkali ditimbulkan dari sinetron Indonesia?
– Dijawab dengan santai: “Itu tergantung dari Pengarahan Orang Tua masing-masing Anak”
4. Tanya: Apakah itu tidak berarti Anda menghidupkan ‘lingkaran api’ di sekeliling tempat bermain dan belajar anak-anak kecil?
Jawab: Diharapkan Orang Tua anak-anak tersebut untuk menjaga mereka agar tidak tersentuh ‘lingkaran api’ nya.
5. Dan tahukan Anda bahwa anak-anak tersebut kemungkinan besar akan menyentuh ‘lingkaran api’ jahanam Anda karena mereka hidup, tidak diam, beraktifitas, memiliki akal, dan berpikir jauh lebih maju dari pikiran saya dan Anda sewaktu kita kecil dulu? Mereka tentu bergerak, tidak mau dikurung dalam pasungan ‘lingkaran api’atau apapun.
– Jawab: sekali lagi, saya tidak mempedulikannya, juga pertanyaan Anda, kecuali bila pertanyaan Anda menghasilkan uang banyak.
6. Tanya: Bukankah Sinetron adalah sebuah genre film — salah satu cabang dari seni — yang sebaiknya memenuhi kriteria sebuah karya seni — sebuah artwork.
– Jawab : Apa itu seni, saya tidak tahu itu makanan apa?
(Penulis: Ya, pantas, memang Anda tidak tahu seni, sehingga film-film Anda sangat jauh dari kriteria sebuah karya seni, namun sangat dekat dengan unsur finansial)
7. Tanya: Tahukan Anda bahwa sinetron murahan Anda dan teman-teman seprofesi Anda sudah merusak tatanan dan jiwa seni khususnya seni pertunjukan dan seni perfilman.
– Jawab : Yang saya tahu, saya mau pamit, mau bikin film lagi.

Stasiun TV dan Sinetron Indonesia Merusak Seni Digitalisasi

Pada Era Digital sekarang ini memungkinkan manusia untuk menggunakan sarana tekhnologi sebagai alat bantu untuk memudahkannya dalam melakukan banyak hal di dunia ini termasuk dalam Rumah Produksi Televisi dan Pembuatan Film.
Dalam pembuatan sebuah film, peran suatu tekhnologi sangat besar dan bisa memudahkan proses produksinya. Namun yang penulis soroti pada artikel ini, adalah minimnya pemanfaatan sumber daya tekhnologi untuk pembuatan sebuah film agar film itu sendiri lebih berbobot, lebih enak untuk dilihat, dan memenuhi unsur-unsur estetika.
Banyak film sinetron tampak dibuat secara asal-asalan, namun diproduksi dengan biaya mahal seperti pembayaran bintang sinetron yang berlebihan per episodenya, pengadaan obyek sarana pembuatan film yang berlebihan, tidak merakyat, dan kurang realistis untuk bisa diterima khalayak ramai, misalnya: pengadaan mobil jaguar untuk dikendarai tokoh utama, namun tidak difungsikan secara signifikan, terkesan hanya show of force saja. Tidak heran banyak pihak menyebut Sinetron sebagai “dunia mimpi”. Kenapa tidak mengganti mobil jaguar dengan mobil yang lebih murah tanpa menghilangkan jati diri si Tokoh sebagai Orang Kaya, namun memiliki fungsi yang signifikan. Anggaran dana hasil Pemangkasan Biaya Produksi dengan penggantian obyek sarana pembuatan film dengan obyek yang lebih murah dan realistis bisa digunakan untuk alokasi peningkatan mutu film itu sendiri dari sisi artistiknya.
Bila masalah optimalisasi tekhnologi terbentur pada biaya, tentu masih banyak jalan lain menuju Roma, dalam arti cukup optimalisasi tekhnologi yang paling dibutuhkan saja, namun cukup bisa menjadi bagian penting sebuah seni perfilman.
Sangat disayangkan bila tekhnologi hanya digunakan untuk pembuatan produk murahan saja dengan biaya produksi yang mahal tanpa ada unsur artistik sedikitpun.

Kita bisa mengambil contoh yang dari sisi tekhnologi dan finansial bagus, yakni Steve Jobs’ Apple Products.
Bukan menjadi rahasia lagi bahwa Produk-Produk Apple bisa dibuat dengan biaya produksi rendah, namun bisa laris terjual dengan harga tinggi. Empat penyebab kenapa Produk=Produk Apple laris terjual yang jelas adalah: Kualitas Produk, Daya Tarik Artistik tinggi, Inovasi, dan kecantikan produknya.

Sinetron sendiri adalah sebuah genre film — salah satu cabang dari seni — yang seharusnya memenuhi kriteria sebuah karya seni — sebuah artwork.
Pembuatannya pun sebaiknya tidak dibuat asal-asalan yang ditujukan hanya untuk mengeruk uang semata tanpa mempedulikan dan mengesampingkan Sense of Art dan efek-efek negatif yang ditimbulkan oleh karya tersebut.
Bolehlah kita membuat suatu karya dekonstruksi seni, namun perlu diingat bahwa walaupun pengetahuan seni terus berkembang, bertambah, dan berubah secara dinamis, bahkan ekstrim sekalipun, semuanya masih dalam koridor SENI.
Karya senipun sebaiknya tidak merusak tatanan, kaidah, dan jiwa, serta makna Seni yang bersifat lentur dan penuh dengan pemaknaan.
Dalam konteks seni pertunjukan dan seni perfilman dalam kaitannya dengan Seni digitalisasi di dalam pertelevisian Indonesia, kita bisa melihat telah terjadi pemblingeran seni, penyesatan seni, bahkan penisbian seni oleh para produser sinetron dan pemilik stasiun televisi.
Kita bisa jelas melihat bahwa pemilik stasiun televisi dan produser sinetron jauh lebih mementingkan pemasukan finansial dari sinetron mereka daripada kualitas sebuah karya film dan daripada seni itu sendiri.
Mereka lebih mengutamakan pendapatan dari iklan yang digunakan untuk break sebuah sinetron dan memiliki durasi lebih panjang dari durasi filmnya sendiri. Disamping itu mereka juga lebih memfokuskan pada pendapatan dari Rating Penonton dengan mengabaikan Sense of Art dari karya film sinetron yang disiarkannya.
Penulis sendiri maklum, karena Televisi merupakan Rumah Produksi Tayangan Visual semata yang berorientasi profit (profit oriented), bukan Rumah Produksi Seni atau Art Gallery.
Namun yang menjadi pertanyaan, apakah sebuah rumah produksi televisi tidak bisa menyiarkan sebuah tayangan acara yang tidak hanya cukup berbobot, enak untuk ditonton, namun aman untuk dikonsumsi publik, terutama anak-anak?
Apalagi karena rumah produksi televisi sekarang secara rutin telah mengkondisikan memberi banyak ‘makanan’sinetron yang tidak berkualitas, berbobot, menyesatkan, dan membahayakan untuk dikonsumsi publik.

Contoh Penelitian Mandiri terhadap Sinetron Indonesia berjudul “INTAN” yang disiarkan pertama oleh Stasiun Televisi Nasional RCTI oleh Bp. Prof. Dr. Em. H. Soediro Satoto, Dosen UNS & ISI Solo, pakar teater dan sinematografi, membuktikan bahwa:

  1. Televisi lebih difungsikan sebagai sarana visualisasi sebuah produk (sinetron) semata, bukan sarana tekhnologi yang bisa membantu menonjolkan segi artistik sebuah produk (yang kurang estetik sekalipun)
  2. Durasi Iklan untuk break sebuah tayangan sinetron jauh lebih panjang dari durasi film sinetron itu sendiri, sekaligus membuktikan bahwa
  3. Salah satu Tujuan Utama sebuah Rumah Produksi Televisi adalah berorientasi pada keuuntungan (profit oriented) bukan Orientasi Seni Pertunjukan.

Tampak sekali bahwa pemilik stasiun televisi maupun si produser film sinetron berpendapat: “tidak masalah tayangan sinetron kami dianggap kontroversial, murahan, ataupun tidak menyehatkan mata moralitas kita, atau membahayakan pemirsa, khususnya anak-anak, yang penting kami bisa dapat duit banyak”, selain itu “Modal Uang dan Kenekatan kami besar, tapi modal pengetahuan seni kami sangat minim, dan kami tidak peduli itu, jadi ya kami bisanya bikin film sinetron seperti itu”
— persis seperti kata pepatah: “TIADA ROTAN AKAR PUNJABI” 🙂

Mari Prihatin
Salam

Membuat Icon Wajah Sendiri Untuk AutoRun Flash Drive

Membuat Icon Wajah Sendiri Untuk AutoRun Flash Drive

Sekaligus Sebagai Indikator Serangan Malware

Iseng aja menulis postingan ini 🙂
Tulisan ini diperuntukkan bagi Anda (yang belum tahu/yang ingin):

  1. Membuat Icon (.ico) Wajah Anda sendiri,
  2. Menjadikan Icon Wajah Anda sebagai Personal Icon Penanda UFD (USB Flash Drive) Anda, yang muncul saat UFD Anda tancapkan di komputer, dengan teknik AutoRun,
  3. Membuat AutoRun File (.ico).

Ilustrasi: Icon UFD Kingston saya berupa Wajah saya seperti nampak di bawah ini:

Icon_AutoRun_UFD_small.jpg

Langkah Pembuatan:

  1. Potret Wajah Anda, lalu Edit (Kecilkan) pixel gambar Anda tersebut dengan Image Editor sesuai dengan besaran ukuran Icon yang Anda Inginkan (16×16/32×32/40×40/48×48/64×64/72×72/80×80/128×128 atau yang lain), lalu simpan sebagai still image file (bmp/jpg/png/gif).
  2. Install dan Jalankan Program Icon Editor (misal: saya pakai IconCool Editor versi 5.26),
  3. Buka file gambar wajah Anda tersebut,
  4. Pada Icon Editor window, pilih ukuran Icon yang akan Anda buat,
  5. Capture gambar tersebut dengan Capture Tool pada Icon Editor Toolbar. Bila sesuai prokendur 🙂 , gambar still image wajah Anda terpampang pada Icon Editor canvas/project file window. Sebenarnya bisa saja gambar wajah Anda tidak perlu Anda Edit, hanya pada saat nanti di-capture, zoom out saja gambarnya agar pas dengan besaran ukuran Icon.
  6. Anda bisa setting pewarnaan dan ukuran sesuai keinginan Anda sebelum terakhir:
  7. Simpan sebagai Icon File (misal: ICON_WAJAHKU.ICO)

Setelah Icon tersimpan,
Buka Notepad, lalu ketik:

[autorun]
ICON=ICON_WAJAHKU.ICO

Bila Anda ingin sertakan file .exe Anda misalnya untuk AutoRun Presentation atau AutoRun Message Dialog Box, Anda bisa ketikkan:

[autorun]
OPEN=AUTORUN.EXE
ICON=ICON_WAJAHKU.ICO

dan simpan sebagai file “AUTORUN.INF

Setelah itu, Copy kedua file tersebut (ICON_WAJAHKU.ICO dan AUTORUN.INF) ke dalam UFD Anda.

Terakhir, Anda coba Test colokkan UFD Anda ke komputer dan lihat hasilnya.

CATATAN:

  • Bila Anda menggunakan OS Windows, Windows tidak mengijinkan executable file (misal: EXE) untuk AutoRun melalui autorun.inf, namun Icon AutoRun tetap akan ditampilkan, kecuali bila Anda menggunakan bantuan program pembuat AutoRun dari media USB seperti APO USB AutoRun. Dan Icon juga tetap akan ditampilkan walau tanpa keberadaan executable file sekalipun.
  • Sebenarnya teknik ini sudah lama diterapkan oleh para pembuat AUTORUN CD/DVD karena tekniknya sama saja, hanya yang lebih saya tekankan, pembuatan Icon Wajah sendiri ini sebagai alternatif unik dalam pembuatan Icon AutoRun selain penggunaan Icon umum seperti gambar CD Icon atau Company Logo Icon.
  • Teknik pembuatan Icon AutoRun hanya bisa berjalan/berlaku sempurna bilamana Windows’ AutoRun/AutoPlay Feature tidak dimatikan. Bila fitur tersebut dimatikan, AutoRun.EXE jelas terblokir, tapi Icon AutoRun seringkali tetap bisa muncul menyertai Nama UFD Anda. Namun dalam kondisi tertentu, walaupun Explorer sudah di-Refresh dan image cache sudah di-clear, terkadang Windows tetap saja mengganti personal UFD Icon dengan default Removable Drive Icon, serta mengganti nama UFD dengan default name — “Removable Drive”.
  • Teknik pemasangan Personal Icon dan Personal Autorun.INF pada USB External Drive ini juga bisa berfungsi sebagai Indikator Serangan Malware, dimana bilamana Personal Icon yang telah dibuat tersebut di atas tidak muncul pada eksplorer/browser saat USB external Drive di Plugged-In, sangat besar kemungkinan file Autorun.INF telah dimodifikasi oleh malware (virus), yang artinya USB Drive tersebut telah terkena serangan malware (virus).

Selamat Mencoba.

Salam